Angkoso Nugroho
Gambar diatas menunjukan tentang Tuhannya rakyat Amerika Serikat, Tuhan
Gajah dan Tuhan Keledai, akan tetapi Tuhan-Tuhan ini bukanlah Tuhannya
para elit Amerika. Para elit Amerika Serikat memiliki Tuhan lain yang di
sembah, yaitu Bintang Daud warna biru di bendera Israel. Tuhannya
Firaun adalah Ra, tapi Tuhannya rakyat Mesir kuno adalah Banteng Apis,
dan macam-macam Tuhan lainnya, yang mereka ukir dengan tangan-tangan
mereka. Memang benar, pemerintahanan Ramses II adalah demokrasi.
Demokrasi terpusat yang terkontrol.
Euphoria kebencian Suni-Syiah: Hegelian Dialectic Barat di dalam Islam
Ada sebuah hubungan antara Eropa dengan Revolusi Islam di Iran tahun
1979. Kita memuji perjuangan Imam Ayatollah Khameini melawan keberadaan
Amerika di Iran, namun kita juga melihat peranan pemerintah Perancis
memberikan yang memberikan suaka kepada beliau dan pesawat Boeing 747
Air France Perancis yang mengangkut Imam Khameini menuju Iran.
Pembaca juga harus mengerti peranan pemerintah Inggris untuk menjadikan
Ibn Saud sebagai raja di Kerajaan Arab Saudi. Wahabi, atau sekarang yang
lebih di kenal dengan Salafy, adalah Islam versi Amerika. Tentu saja
saya berbicara tentang pendiriannya, bukan rakyat, akan tetap para
Mufti, Imam, Universitas Islam dan pemerintahnya. Ini adalah bentuk
implementasi dari "Hegelian Dialectic" untuk tujuan geopolitik. Jika
pembaca ingin memahami hal ini dengan lebih baik, maka hal ini
Pemerintah Perancis membantu Imam Khameini dalam
melakukan Revolusi Islam Iran pada Tahun 1979
sama
dengan Fasisme terhadap Sosialisme di Eropa, dan juga Sosialisme
terhadap Kapitalisme di Pasifik. Hal ini dikarenakan nilai-nilai agama
sudah dihilangkan di Eropa Barat dan Amerika Utara, dimana mereka
menciptakan ideologi agama semu, lengkap dengan pendeta dan gereja yang
dinamakan partai politik. Sebagai tambahan, pembaca mungkin ingin
melihat ceramah dari Yuri Bezmenov di Youtube tentang Hegelian Dialectic
dan subversi ideologi.
Mengenai Kerajaan Wahabi Arab Saudi dan Pemerintah Syiah Republik Iran,
Allah Yang Maha Tinggi telah melarang Muslim untuk melakukan
persahabatan dan aliansi dengan orang-orang Yahudi tertentu dan Nasrani
tertentu dalam perjuangan Muslim;
Ibnu Saud dan Rosevelt di atas geladak Kapal Perusak AL AS USS Quinzy dalam perjanjian petrodollar dengan AS.
"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
mengambil orang-orang Yahudi [tertentu] dan Nasrani [tertentu] sebagai
teman dan pelindungmu, dimana mereka adalah teman dan pelindung satu
sama lain [definisi tertentu]. Dan barangsiapa diantara kamu mengambil
mereka menjadi teman dan pelindung, maka orang itu termasuk golongan
mereka [kehilangan status Muslimnya]. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang zalim [tidak adil dan menindas]."
(QS Al-Maidah: 51)
Hegelian Dialectic di Dalam al-Qur’an
Georg Wilhelm Friedrich Hegel adalah seorang ahli filsafat abad ke 19
asal Jerman yang merancang dialectic tertentu, atau metode argumen untuk
menyelesaikan perbedaan pendapat dalam mencari kebenaran. Metode
datangnya kebenaran berdasarkan pada pertukaran argumen yang masuk akal
adalah sistem dari proses berpikir yang masih di gunakan hingga
sekarang. Namun demikian al-Qur’an menemukan kelicikan dalam metode itu;
"Dan jika mereka bertemu dengan orang-orang yang
beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan jika mereka
kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami
bersama dengan kalian, kami hanya berpura-pura."
(QS Al-Baqarah: 14)
Menurut pandangan kami, ayat di atas menjelaskan tentang para elit,
dalam hal ini adalah Kependetaan Yahudi dimasa Nabi [saw] yang
menciptakan "perpecahan" di dalam masyarakat, untuk menipu rakyat.
Mereka menciptakan 2 subjek yang saling bertentangan satu sama lain, dan
saat rakyat bertikai antara yang satu dengan yang lain, atau bingung
dan merasakan ilusi berada di dunia yang lain, mereka mengambil
keuntungan dari pertikaian tersebut. Dalam surat An-Naas Allah Yang Maha
Tinggi menjelaskan tentang setan yaitu manusia dan jin. Begitu pula
surat
Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Al-Baqarah: 14 yang dimaksud setan dalam ayat tersebut adalah
manusia. Penguasa yang memiliki kekuatan militer dan ekonomi, yang
menciptakan komedi politik demi kepentingan dan keuntungan mereka secara
dalam bentuk; politik, ekonomi, sosial, geostrategis, dan lainnya.
Komedi yang tragis ini bisa mereka selenggarakan di dalam lingkup
nasional, regional maupun global. Sebagai contoh; Rusia dan Ukraina atau
anti Rusia, Korea Selatan dan Korea Utara atau anti Korea Selatan,
wahabi dan Syiah atau anti Wahabi, Partai Republik dan Partai Demokrat
di Amerika Serikat, dan lain sebagainya.
"Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia [1], Raja manusia [2],
Sembahan manusia [3], Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa
bersembunyi [4], Yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia [5],
Dari golongan jin dan manusia [6]."
(QS An-Naas: 1-6)
Saat ini, orang-orang Yahudi tertentu itu mengontrol sistem keuangan
dunia. Mereka memiliki kewenangan untuk mencetak uang, tanpa
sepengetahuan rakyat, karena di dalam pikiran rakyat, mereka berada di
dunia ghaib! Dunia televisi dan handphone pintar! Para elit dengan
kemampuan tadi, bisa menciptakan sekte-sekte apapun yang mereka
inginkan. Begitu pula Hegelian Dialectic yang ada di Surah Al-Baqarah,
atau Anak Sapi, dalam pemahaman umum disimbolisasikan bahwa rakyat atau
umat itu semacam sapi atau binatang ternak bagi para penguasa. Di bagian
lain di al-Qur’an, Allah Yang Maha Tinggi merujuk kebodohan manusia
seperti binatang ternak, sapi, atau lembu. Oleh karena itu, Surah
Al-Baqarah di dalam al-Qur’an adalah Surah yang menjelaskan demokrasi,
idiologi, perdebatan tentang arogansi keagamaan dan sekterianisme di
depan publik, pemilu, partai, majelis/pertemuan, dan lainnya. Atau
perwakilan rakyat yang memberikan ilusi bahwa rakyat memiliki
pemerintahan.
Kebanyakan dari jin dan manusia Kami jadikan untuk
isi neraka Jahannam: "Mereka mempunyai hati tapi tidak mengerti,
mempunyai mata tapi tidak melihat, dan mempunyai telinga tapi tidak
mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai (tidak memperdulikan peringatan)."
(QS Al-Araaf: 179)
Para elit Israel pada masa Musa [as] mengambil ide Tuhan Sapi Emas dari
Mesir, merujuk kepada Tuhan Banteng Apis Mesir. Tuhan yang di sembah
rakyat, tapi tidak di sembah oleh para elit Mesir Kuno, artinya adalah
Mesir Kuno pada masa Ramses II, atau Fir’aunnya Musa [as] mengadopsi
demokrasi hanya untuk rakyat, bukan untuk para elit dan para elit lah
yang mengontrol demokrasi, dimana Fir’aun mengklaim dirinya bukan
berasal dari golongan manusia atau Tuhan. Tetapi dia manusia, dan
manusia sebatas ternak tidak memahami hal itu.

Saat Musa [as] berada di bukit di Gurun Sinai, untuk menerima Taurat,
sebagai pedoman, untuk dijadikan pilar dan landasan mengenai apa yang
akan di lakukan oleh Banu Israel selanjutnya setelah Exodus/Hijrh, yaitu
mendirikan sebuah negara. Orang-orang berkumpul dan kembali menyembah
Sapi Emas. Ini adalah bahasa simbolik keagamaan, dimana Sapi adalah
bukanlah sekedar patung dari emas, yang telah mereka lakukan adalah
berkumpul dan membicarakan panduan mereka sendiri, dan rencana mereka
adalah untuk mendirikan sebuah negara. Dan negara yang ada di benak
mereka adalah seperti negaranya Ramses II. Dalam konteks tersebut Sapi
Emas akan menjadi simbol negara. Dan warna "Sapi" apa yang terbaik
[Al-Baqarah]? Tidak, ini adalah perdebatan politik dan Musa as
menghancurkannya. Segala pujian diucapkan kepada Allah Yang Maha Tinggi,
kini para pembaca dapat mempelajari Surah al-Baqarah dengan metode yang
benar. Insha Allah
Banteng Apis, di atasnya
terdapat bola matahari yang melambangkan
logika manusia atau hari ini
disebut sebagai Humanisme.