Kamis, 03 November 2016

Angkoso Nugroho

Mereka  memindahkan gunung
Jalur Perdagangan, Deep Sea Port, Bandara Besar dan Rel Kereta Antar Benua.
Salah satu dari implementasi OBOR adalah Tol Laut atau rangkaian Deep Sea Port di Indonesia dan Malaysia yang dibiayai oleh China. Tentu saja proyek ini tidak akan disetujui oleh Barat. Karena merupakan salah satu infrastruktur penting yang menunjang kemampuan ekonomi bangsa itu. Infrastruktur yang menaikkan level ekonomi bangsa itu, yang memungkinkan distribusi komoditas dalam jumlah yang masif. Contoh lain dari infrastruktur semacam itu adalah Airport Besar dan Jalur Rel 

Kereta yang menghubungkan negara satu dan lainnya. Intercontinental railroad. Juga railroad yang menghubungkan satu propinsi dengan propinsi lainnya di dalam satu negara, transnasional railroad.
Menanggapi serangan fifth collumnist Barat di negeri ini, yang mengatakan, investasi Deep Sea Port dan Transnasional Railroad hanya menguntungkan China, dalam hal pengembalian investasi dan juga kontraktor proyek tersebut, maka saya balik bertanya kepada mereka, "Jika memang proyek Deep Sea Port dan Rel Kereta Api Transnasional menguntungkan China dalam hal investasi dan kontraktor proyek, maka silahkan meminta proyek-proyek tersebut untuk dibiayai oleh IMF atau Bank Dunia, niscaya mereka tidak akan memberikannya. Kalau rel di dalam satu kota dan Pelabuhan Kecil mereka akan memberikannya, semacam mainan anak-anak di Disneyland."
Memang benar selama 1000 tahun peradaban Barat menguasai dunia ini, mereka menghisap dan mengkerdilkan ekonomi negara-negara di dunia ini, dengan melarang pembangunan infrastruktur yang meningkatkan tingkat ekonomi suatu bangsa. Tidak ada rel kereta api antar negara dan Deep Sea Port, kecuali di Eropa Barat dan Amerika Utara. Belum lagi sifat riba atau interest dan conditionality yang merupakan relitas "growth" yang selalu mereka dengungkan disana-sini. Tidak ada growth, yang ada adalah ekonomi kerdil.
Di dalam al-Qur'an, Allah mengatakan,
Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.
Jalan-jalan tersebut adalah jalur perdagangan atau trade routes. Itulah mengapa ayat tersebut ditempatkan di dalam Surat yang berjudul Al-Zukhruf atau perhiasan emas.

2 komentar:

  1. Reklamasi Pantai Jakarta Utara

    Menanggapi serangan Kolumnis Barat di negeri ini, yang mengatakan, investasi Deep Sea Port [Pelabuhan Laut Dalam] dan Transnasional Railroad hanya menguntungkan China, dalam hal pengembalian investasi dan juga kontraktor proyek tersebut, maka saya balik bertanya kepada mereka,

    "Jika memang proyek Deep Sea Port dan Rel Kereta Api Transnasional menguntungkan China dalam hal investasi dan kontraktor proyek, maka silahkan kalian meminta proyek-proyek tersebut untuk dibiayai oleh IMF atau Bank Dunia, niscaya mereka tidak akan memberikannya. Kalau rel di dalam satu kota dan Pelabuhan Kecil mereka akan memberikannya, semacam mainan anak-anak di Pasar Malam dan Dunia Fantasi."

    Memang benar selama 1000 tahun peradaban Barat menguasai dunia ini, mereka menghisap dan mengkerdilkan ekonomi negara-negara di dunia ini, dengan melarang pembangunan infrastruktur yang meningkatkan tingkat ekonomi suatu bangsa. Tidak ada rel kereta api, antar negara dan Deep Sea Port, kecuali di Eropa Barat dan Amerika Utara. Belum lagi sifat riba atau interest dan conditionality yang merupakan relitas "growth" yang selalu mereka dengungkan disana-sini. Tidak ada growth, yang ada adalah ekonomi kerdil.

    Betapa bodohnya kalian. Dan saya bukanlah pendukung Ahok dan Jokowi.

    BalasHapus
  2. China's the Pearl of Strings maritime economic innitiative seek mutual growth for the regional countries. China's Deep Sea Port in Thailand, Bangladesh, Malaysia, Indonesia, Pakistan, Myanmar, etc. That is a bad idea for India and Singapore, those who control the region. Both will counter it economically but the implication of such conduct is their own economic suicide.

    BalasHapus